Kinerja 3 Tahun HDMY Puaskan Masyarakat Sumsel

BEGAWAN INDONESIA.com – Kendati peetarungan kontestan Pilkada 2024 masih cukup lama, namun saat ini sudah menjadi buah bibir masyarakat terkait sosok yang layak memimpin Sumsel kedepannya.

Merespon perkembangan politik di Sumsel saat ini, Pengamat Politik Dr Tarech Rasyid turut memberikan komentar ihwal persaingan perebutan kursi Sumsel  di Pilgub 2024.

Menurut Tarech Rasyid, hasil survei yang dilakukan Populi Center terhadap kinerja Herman Deru dan Mawardi Yahya (HDMY) turut menjadi perhatian masyarakat Sumsel.

Hal ini tidak terlepas untuk melihat bagaimana kiprah sang pertahana yang dipastikan akan kembali mencalonkan diri kembali.

Tarech Rasyid menilai, Populi Centre merupakan lembaga survei yang boleh dibilang kredibel. Dia mengaku, telah mengenal lembaga ini saat masih dipimpin oleh almarhum Dr. Hikmat Budiman yang dikenal sebagai intelektual dan ilmuwan Sosial Indonesia.

“Integritas penulis Buku “Lubang Hitam Kebudayaan” dan aktivis NGO ini tak perlu diragukan lagi. Sekarang Populi centre dipimpin Afrimadona, Ph.D yang juga dikenal sebagai ilmuwan yang didukung oleh peneliti yang pengalaman dan handal,” ucapnya.

Dijelaskannya, dari hasil survei Populi Centre, dapat dilihat dan dipahami berbagai temuan-temuannya. Dimana sebagian besar Masyarakat Sumsel merasakan tingkat kepuasaan yang tinggi terhadap kepemimpinan  HDMY.

 “Tingkat kepuasan masyarakat Sumsel ini didukung pula oleh sebagian besar masyarakat Sumsel yang puas dengan kinerja pemerintahan Provinsi Sumsel yang dipimpin oleh HDMY,” ucap Rektor Universitas IBA Palembang ini.

Menurut Tarech, pepuasan sebagian besar masyarakat Sumsel terhadap kinerja pemerintahan Provinsi Sumsel tercermin dari tingkat keberhasilan program yang telah dilaksanakan oleh Pemprov.

“Misalnya, temuan survei bahwa masyarakat Sumsel cukup puas mengenai hasil pembangunan infrastruktur di berbagai kabupaten. Temuan ini sejalan dengan respon masyarakat baik di media mainstream maupun di media sosial. Meskipun, ada juga suara-suara yang berkonotasi miring,” tegasnya.

Kendati demikian, ungkap Tarech, kepuasan publik atas kinerja pemprov Sumsel di bawah kepemimpinan HDMY itu merupakan modal sosial dan modal kultural yang mereka miliki dalam kompetisi Pilgub Sumsel pada tahun 2024 mendatang.

“Modal sosial dan kultural itu akan membesar bila dalam sisa pemerintahan  mereka kedepan dapat meningkatkan rasa puas masyarakat atas kinerja pemerintahan pemprov, disamping tidak ada hal-hal luar biasa yang dihadapi mereka,” terangnya.

Dia menilai, kedua modal tersebut diperkuat pula dengan modal politik, sebagaimana diketahui Herman Deru adalah Ketua Partai Nasdem. Sedangkan Mawardi Yahya mantan Bupati Ogan Ilir, dikenal sebagai politisi kawakan atau yang telah banyak pengalaman politik di tingkat lokal, juga jaringan politik di level nasional.

Sementara itu, modal ekonomi Herman Deru dan Mawardi Yahya terbilang cukup kuat. Modal ekonomi itu melengkapi modal sosial, modal kultural, modal politik dan modal ekonomi.

“Dari analisis di atas, maka pasangan Herman Deru dan Mawardi adalah pasangan yang tangguh untuk mengungguli lawan-lawan politiknya,” tegasnya.

Namun, ucap Tarech, jika Mawardi Yahya tak lagi mendampingi  Herman Deru, dengan alasan  telah “sepuh” atau memberi jalan kepada “yang lain”,  maka kekuatan Herman Deru bergeser sedikit tetapi tidak membuat popularitas dan elektabilitasnya “rontok’.

 Yang jelas, ucap Tarech, pasangan Herman Deru dan Mawardi Yahya di Pilgub 2024 masih sangat kuat baik popularitas maupun elektabilitas. Hal dapat dilihat dari hasil survei Populi Centre untuk popularitas Herman Deru teratas (96,6 %), Dodi Reza Alex (70,5%), Mawardi Yahya (58,3%), Edi Santana Putra (55,9%).

Sedangkan untuk elektabilitas Herman Deru tetap berada dipuncak (50,4%), disusul Dodi Reza Alex (13,6%), Mawardi Yahya (4,9%), Edi Santana Putra (4,3%), Prana Putra Sohe (3,1%), Ridho Yahya (2,3%).

Disisi lain, Herman Deru sebagai gubernur Provinsi Sumsel dengan gaya kepemimpinan yang sering turun langsung ke tengah  masyarakat, aktif hadir  diberbagai kegiatan di kampus, kepemudaan, aktifitas sosial, budaya, agama dan politik telah membawa sosoknya sebagai pemimpin yang merakyat, atau pimpinan yang dekat dengan rakyat.

“Sebaliknya, Mawardi Yahya menampilkan sosok pemimpin  yang sederhana dan melengkapi Herman Deru. Karena itu, jika kedua pasangan tampil dalam Pilgub 2024, tentu saja,  menjadi perhitungan lawan-lawan politiknya, atau bahkan menciutkan nyali untuk bertarung pada Pilgub mendatang,” ujarnya.

Disisi lain, Tarech menilai, pasca Bupati Musi Banyuasin, Dodi Reza Alex Noerdin, terjaring OTT KPK. Peta kekuatan politik di Sumsel dalam Pilgub mendatang memang berubah total. Tetapi, bukan berarti bila Bupati MUBA tidak dicokok KPK, maka Dodi Reza Alex Noerdin akan mudah mengalahkan popularitas dan elektabilitas Herman Deru. Namun, yang terjadi adalah kompetisi merebutkan posisi Sumsel 1  akan  lebih sengit.

“Dari tokoh-tokoh yang muncul dalam survei Populi Centre, memang agak sulit untuk mengalahkan popularitas dan elektabilitas Herman Deru sebagai incumbent yang dinilai masyarakat kinerjanya, programnya dan capaiannya positif,” imbuhnya.

Berbeda halnya bila tokoh-tokoh Sumsel tersebut, tambahnya, mengandeng tokoh Sumsel dari pusat yang dinilai mayarakat Sumsel berprestasi dan mampu mendongkrak popularitas dan elektabilitas, maka kompetisi Pilgub 2024 menjadi “ramai” dan “sengit”.

“Itu pun harus didukung oleh modal sosial, modal kultural, modal politik dan modal ekonomi. Jika tidak akan mengalami kesulitan dan kendala dalam menggeser popularitas dan elektabilitas Herman Deru. Bahkan, kalau Herman Deru dan Mawardi Yahya berpasangan kembali, maka tak mudah lawan-lawan politiknya mengungguli popularitas dan elektabilitas keduanya,” tegasnya.*****